Januari 2009
Awal Tahun 2009 jalan-jalan ke pantai Watudodol bersama teman-teman kantor naik motor, soalnya dekat dengan WSR sekitar 1 Km.
Watu Dodol Adalah Obyek Wisata di Banyuwangi yang terletak di Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Dari Banyuwangi menuju Watudodol adalah 14 km jaraknya dan hanya 5 km dari pelabuhan Ketapang. daerah ini digunakan sebagai tempat istirahat, dan biasanya pantai Watudodol ini penuh dengan wisatawan lokal di akhir pekan atau hari libur.
Ketika menempuh perjalanan ke Bali atau Lombok dengan bus atau mobil pribadi, tentunya kita tidak boleh melewatkan untuk mengunjungi Pantai Watu Dodol. Pantai ini terletak di sisi utara Banyuwangi sebelum Pelabuhan Ketapang. Jadi, jika ingin mencapai pantai ini, harus mengambil jalur utara (Pantura Jalur) dulu. Ada batu yang sangat besar antara pantai dan jalan.
Mengapa orang Banyuwangi menyebutnya "Watu Dodol"? Menurut waga setempat, Konon, batu besar ini berasal dari barang jualan Semar yang terjatuh di tempat itu. Semar adalah salah satu karakter dalam pertunjunjukan Wayang. Sementara beras yang dibawa Semar tumpah keluar dan menjadi pasir di sekitar Watu Dodol. Orang-orang mengatakan, yang dibawa Semar adalah kayu kelor, dilemparkan dan menusuk di sela-sela batu besar yang disebut Watu Dodol.
Minggu, 09 Agustus 2015
Pantai Boom
Januari 2008
Pertama Jalan-Jalan dibanyuwangi ke pantai Boom yang paling dekat dengan WSR, ternyata pantainya sangat bagus bisa melihat pulau Bali dari pulau Jawa.
Kata boom mungkin saat ini hanya terdengar di sekitar pelabuhan. Saat ini boom merupakan kata yang kurang umum dikenal , maknanya adalah struktur rangka alat berat (crane) atau balok pengendali layar perahu (horisontal) yang terletak di bawah tiang layar (vertikal). Kata ini berasal dari bahasa Belanda yang bermakna pohon . Asal arti ini kemudian dalam dunia konstruksi menjadi bermakna balok (beam dalam bahasa Inggris, yang rupanya juga mengimpor kata ini kedalam kosa kata mereka).
Dalam sejarah Surabaya, kata boom memiliki tempat yang unik karena ada dua lokasi bea cukai di Surabaya yang bernama Kleine Boom ( di Ujung) dan Groote Boom (di Willemsplein). Kleine Boom untuk bea cukai pendatang asing dari kapal dan Groote Boom untuk bea cukai barang-barang sehingga otomatis membutuhkan tempat lebih besar dan dilengkapi dengan alat angkat berat (crane). Mengapa bea cukai ini bernama boom kecil dan boom besar
Pertama Jalan-Jalan dibanyuwangi ke pantai Boom yang paling dekat dengan WSR, ternyata pantainya sangat bagus bisa melihat pulau Bali dari pulau Jawa.
Kata boom mungkin saat ini hanya terdengar di sekitar pelabuhan. Saat ini boom merupakan kata yang kurang umum dikenal , maknanya adalah struktur rangka alat berat (crane) atau balok pengendali layar perahu (horisontal) yang terletak di bawah tiang layar (vertikal). Kata ini berasal dari bahasa Belanda yang bermakna pohon . Asal arti ini kemudian dalam dunia konstruksi menjadi bermakna balok (beam dalam bahasa Inggris, yang rupanya juga mengimpor kata ini kedalam kosa kata mereka).
Dalam sejarah Surabaya, kata boom memiliki tempat yang unik karena ada dua lokasi bea cukai di Surabaya yang bernama Kleine Boom ( di Ujung) dan Groote Boom (di Willemsplein). Kleine Boom untuk bea cukai pendatang asing dari kapal dan Groote Boom untuk bea cukai barang-barang sehingga otomatis membutuhkan tempat lebih besar dan dilengkapi dengan alat angkat berat (crane). Mengapa bea cukai ini bernama boom kecil dan boom besar
Perjalanan Bandung-Banyuwangi
Desember 2007
ALhamdulillah setelah Traning kerja sebulan lebih di Bandung akhirnya lulus juga dan akan ditempat dicabang, tapi saya belum tahu mau ditempatkan dicabang mana!!!. Setelah beberapa hari saya diberi kabar oleh perusahaan PT. Medion, bahwa saya akan ditempatkan di Surabaya, tapi beberapa jam dibatalkan dan saya akhirnya ditempatkan di Banyuwangi.
Saya sudah siap saja ditempat di Banyuwangi padahal belum tahu banyuwangi itu daerah mana, paling Jawa Tengah perkiraan saya. hari selasa,jam 16.00 saya berangkat dari bandung naik bus Kramat Jati waktu itu ongkosnya sekitar Rp. 250.000,- sampai Banyuwangi. Perjalanan sudah hampir sehari tapi kok belum sampai juga padahal Jawa Tengah sudah terlewati dan memasuki Wilayah Jawa Timur. Malam hari bus berhenti untuk istirahat dan makan di wilayah Brebes Jawa Tengah.
Malam itu juga dari Brebes langsung berangkat lagi, setelah memasuki wilayah Situbondo terlihat pemanadangan pantai sepanjang jalan sangat indah sekali, tiba-tiba bus berhenti untuk istirahat dan makan siang. ternyata tempat makannya di restoran dipinggir pantai, dan makan sambil lihat pemandangan laut yang luas.
Perjalalanan pun dilanjutkan menuju Banyuwangi, katanya beberapa jam lagi sudah sampai Banyuwangi. Setelah beberapa jam bus berhenti dan ternyata sudah memasuki pelabuhan. dan saya turun di pelabuahan dan langsung naik angkutan kota menuju Banyuwangi, saya hanya membawa selembar kertas bergambarkan peta menuju cabang medion. Dan Alhamdulillah akhirnya sampai juga ke tempat tujuan.
ALhamdulillah setelah Traning kerja sebulan lebih di Bandung akhirnya lulus juga dan akan ditempat dicabang, tapi saya belum tahu mau ditempatkan dicabang mana!!!. Setelah beberapa hari saya diberi kabar oleh perusahaan PT. Medion, bahwa saya akan ditempatkan di Surabaya, tapi beberapa jam dibatalkan dan saya akhirnya ditempatkan di Banyuwangi.
Saya sudah siap saja ditempat di Banyuwangi padahal belum tahu banyuwangi itu daerah mana, paling Jawa Tengah perkiraan saya. hari selasa,jam 16.00 saya berangkat dari bandung naik bus Kramat Jati waktu itu ongkosnya sekitar Rp. 250.000,- sampai Banyuwangi. Perjalanan sudah hampir sehari tapi kok belum sampai juga padahal Jawa Tengah sudah terlewati dan memasuki Wilayah Jawa Timur. Malam hari bus berhenti untuk istirahat dan makan di wilayah Brebes Jawa Tengah.
Malam itu juga dari Brebes langsung berangkat lagi, setelah memasuki wilayah Situbondo terlihat pemanadangan pantai sepanjang jalan sangat indah sekali, tiba-tiba bus berhenti untuk istirahat dan makan siang. ternyata tempat makannya di restoran dipinggir pantai, dan makan sambil lihat pemandangan laut yang luas.
Perjalalanan pun dilanjutkan menuju Banyuwangi, katanya beberapa jam lagi sudah sampai Banyuwangi. Setelah beberapa jam bus berhenti dan ternyata sudah memasuki pelabuhan. dan saya turun di pelabuahan dan langsung naik angkutan kota menuju Banyuwangi, saya hanya membawa selembar kertas bergambarkan peta menuju cabang medion. Dan Alhamdulillah akhirnya sampai juga ke tempat tujuan.
Kamis, 29 Januari 2015
Asal Usul Nama 'Gudir'
Selamat sore temen-teman....
sudah lama ga berjumpa di dumay, mungkin sekitar 1 tahun yang lalu saya menulis diblog ini heheheh.... hari ini saya secara tiba-tiba pengen corat coret diblog ini, tapi saya masih bingung yang mau dicoretinnya tentang apa yah!!!!
mungkin ada saran dari temen-temen???.... hmmm apa yah.... gini deh saya baru ingat, asal usul panggilan nama saya 'Gudir'. gini neh temen-temen, kalau dikampung halaman saya, teman-teman memanggil saya dengan Gudir hehheh, nah ntah dari mana dan siapa yang pertama memanggil Gudir sampai saya masih misterius. mulai dari keluarga, saudara dan teman-teman semuanya tidak ada yang tahu, tapi diantara mereka ada yang bilang katanya waktu saya masih kecil saya tidak bisa menyebutkan nama saya yaitu 'Asep Didin', tapi malah bilang 'Gudih..Gudih' begitu katanya. Lama-lama orang memanggil saya Gudir hhehehehe
Dibalik nama Gudir teryata membawa keberuntungan, diantaranya saya jadi terkenal hehhhe
Rabu, 05 Juni 2013
mitos perkawinan laki-laki sunda dengan perempuan jawa
Perempuan itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, atau karena agamanya. Pilihlah berdasarkan agamanya agar engkau beruntung”. (HR. Bukhari dan Muslim)
“Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah perempuan shalihah”. (HR. Muslim, Nasa’I, Ibnu Majah, Ahmad, dan yang lainnya)
Pernahkah anda mendengar bahwa orang Sunda dilarang menikah dengan orang Jawa atau sebaliknya? Ternyata hal itu hingga ini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat kita. Lalu apa sebabnya?
Mitos tersebut hingga kini masih dipegang teguh beberapa gelintir orang. Tidak bahagia, melarat, tidak langgeng dan hal yang tidak baik bakal menimpa orang yang melanggar mitos tersebut.
Lalu mengapa orang Sunda dan Jawa dilarang menikah dan membina rumah tangga. Tidak ada literatur yang menuliskan tentang asal muasal mitos larang perkawinan itu. Namun mitos itu diduga akibat dari tragedi perang Bubat.
Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit, yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara.
Hayam Wuruk memang berniat memperistri Dyah Pitaloka dengan didorong alasan politik, yaitu untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda. Atas restu dari keluarga kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka. Upacara pernikahan rencananya akan dilangsungkan di Majapahit.
Maharaja Linggabuana lalu berangkat bersama rombongan Sunda ke Majapahit dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat. Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit.
Menurut Kidung Sundayana, timbul niat Mahapatih Gajah Mada untuk menguasai Kerajaan Sunda. Gajah Mada ingin memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta, sebab dari berbagai kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan Majapahit, hanya kerajaan Sunda lah yang belum dikuasai.
Dengan maksud tersebut, Gajah Mada membuat alasan oleh untuk menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat adalah bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Gajah Mada mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan pengakuan superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri disebutkan bimbang atas permasalahan tersebut, mengingat Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.
Versi lain menyebut bahwa Raja Hayam Wuruk ternyata sejak kecil sudah dijodohkan dengan adik sepupunya Putri Sekartaji atau Hindu Dewi. Sehingga Hayam Wuruk harus menikahi Hindu Dewi sedangkan Dyah Pitaloka hanya dianggap tanda takluk.
"Soal pernikahan itu, teori saya tentang Gajah Mada, Gajah Mada tidak bersalah. Gajah Mada hanya melaksanakan titah sang raja. Gajah Mada hendak menjodohkan Hayam Wuruk dengan Diah Pitaloka. Gajah mada Ingin sekali untuk menyatukan antara Raja Sunda dan Raja Jawa lalu bergabung. Indah sekali," tegas sejarawan sekaligus arkeolog Universitas Indonesia (UI) Agus Aris Munandar.
Hal ini dia sampaikan dalam seminar Borobudur Writers & Cultural Festival 2012 bertemakan; 'Kontroversi Gajah Mada Dalam Perspektif Fiksi dan Sejarah' di Manohara Hotel, Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Jateng, Selasa (30/10).
Pihak Pajajaran tidak terima bila kedatangannya ke Majapahit hanya menyerahkan Dyah Pitaloka sebagai taklukan. Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada.
Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula.
Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukan Bhayangkara ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu.
Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Raja Linggabuana, para menteri, pejabat kerajaan beserta segenap keluarga kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat.
Tradisi menyebutkan sang Putri Dyah Pitaloka dengan hati berduka melakukan bela pati atau bunuh diri untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya. Menurut tata perilaku dan nilai-nilai kasta ksatria, tindakan bunuh diri ritual dilakukan oleh para perempuan kasta tersebut jika kaum laki-lakinya telah gugur. Perbuatan itu diharapkan dapat membela harga diri sekaligus untuk melindungi kesucian mereka, yaitu menghadapi kemungkinan dipermalukan karena pemerkosaan, penganiayaan, atau diperbudak.
Hayam Wuruk pun kemudian meratapi kematian Dyah Pitaloka. Akibat peristiwa Bubat ini, bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri menghadapi tentangan, kecurigaan, dan kecaman dari pihak pejabat dan bangsawan Majapahit, karena tindakannya dianggap ceroboh dan gegabah. Mahapatih Gajah Mada dianggap terlalu berani dan lancang dengan tidak mengindahkan keinginan dan perasaan sang Mahkota, Raja Hayam Wuruk sendiri.
Tragedi perang Bubat juga merusak hubungan kenegaraan antar Majapahit dan Pajajaran atau Sunda dan terus berlangsung hingga bertahun-tahun kemudian. Hubungan Sunda-Majapahit tidak pernah pulih seperti sedia kala.
Pangeran Niskalawastu Kancana, adik Putri Dyah Pitaloka yang tetap tinggal di istana Kawali dan tidak ikut ke Majapahit mengiringi keluarganya karena saat itu masih terlalu kecil dan menjadi satu-satunya keturunan Raja yang masih hidup dan kemudian akan naik takhta menjadi Prabu Niskalawastu Kancana.
Kebijakan Prabu Niskalawastu Kancana antara lain memutuskan hubungan diplomatik dengan Majapahit dan menerapkan isolasi terbatas dalam hubungan kenegaraan antar kedua kerajaan. Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan larangan estri ti luaran (beristri dari luar), yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak Majapahit. Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa.
Tindakan keberanian dan keperwiraan Raja Sunda dan putri Dyah Pitaloka untuk melakukan tindakan bela pati (berani mati) dihormati dan dimuliakan oleh rakyat Sunda dan dianggap sebagai teladan. Raja Lingga Buana dijuluki 'Prabu Wangi' (bahasa Sunda: raja yang harum namanya) karena kepahlawanannya membela harga diri negaranya. Keturunannya, raja-raja Sunda kemudian dijuluki Siliwangi yang berasal dari kata Silih Wangi yang berarti pengganti, pewaris atau penerus Prabu Wangi.
Beberapa reaksi tersebut mencerminkan kekecewaan dan kemarahan masyarakat Sunda kepada Majapahit, sebuah sentimen yang kemudian berkembang menjadi semacam rasa persaingan dan permusuhan antara suku Sunda dan Jawa yang dalam beberapa hal masih tersisa hingga kini. Antara lain, tidak seperti kota-kota lain di Indonesia, di kota Bandung, ibu kota Jawa Barat sekaligus pusat budaya Sunda, tidak ditemukan jalan bernama 'Gajah Mada' atau 'Majapahit'. Meskipun Gajah Mada dianggap sebagai tokoh pahlawan nasional Indonesia, kebanyakan rakyat Sunda menganggapnya tidak pantas akibat tindakannya yang dianggap tidak terpuji dalam tragedi ini
Senin, 27 Mei 2013
hirup di luar jawa barat teh sok loba nu ngaledek, mun keur ngomong jeung lain urang sunda kahade lamun aya huru F atawa P. sok di seungseurikeun geura.
Langganan:
Postingan (Atom)




